Atasi gout dengan obat dari dapur

bawang_putihBawang putih, jahe, dan daun salam hanya beberapa penghuni dapur yang ternyata berkhasiat obat. Khasiat itu  juga terbukti secara ilmiah. Bawang putih dan kunyit, misalnya, mampu menurunkan kadar kolesterol sebagaimana hasil praklinis. Selain herbal itu, kini seledri juga unjuk gigi sebagai antiasam urat yang kuat

Seledri berkhasiat antiasam urat? Begitulah hasil riset praklinis  peneliti di Pusat Studi Biofarmaka, Institut Pertanian Bogor, Jawa Barat, Dr Dyah Iswantini Pradono, MAgr dan rekan. Dalam penelitian itu, Dyah Iswantini mengombinasikan seledri Apium graveolens dengan sidaguri. Selama ini para herbalis memang meresepkan sidaguri Sida rhombifolia sebagai antiasam urat. Namun, pemanfaatan sidaguri sebagai antiasam urat hanya berdasarkan bukti empiris dan belum ada pembuktian secara ilmiah.

Dyah Iswantini membuktikan bahwa seledri berperan menghambat aktivitas enzim xantine oksidase, pemicu asam urat. Menurut Dyah Iswantini, penggabungan kedua herbal itu, menyebabkan daya hambat terhadap xantine oksidase lebih tinggi daripada pemakaian tunggal.

Manjur

Menurut Dyah Iswantini, “Kombinasi seledri dan sidaguri dapat meniadakan aktivitas enzim xantine oksidase secara sempurna, bahkan memiliki daya hambat melebihi allopurinol (obat antiasam urat sintesis, red) dan produk jamu tradisional,” kata dosen di Departemen Kimia Institut Pertanian Bogor itu. Dalam penelitian itu Dyah Iswantini melakukan 2 percobaan: secara in vitro dan in vivo. Pada uji In vitro seledri-sidaguri  menghambat aktivitas enzim xantine oksidase. Sedangkan percobaan in vitro, Dyah membuktikan khasiat sidaguri-seledri berkhasiat anti-inflamasi atau antiperadangan.

Ia memberikan formula dari kombinasi 30 g ekstrak flavonoid akar dan batang sidaguri serta ekstrak etanol batang dan akar  seledri kepada 15 tikus percobaan. Dosisnya 37,8 mg per kg bobot badan tikus. Hasilnya odema (pembengkakan) turun dari 47% menjadi 17,39% dalam 1 jam. Dengan waktu yang sama allopurinol hanya menurunkan peradangan 26,14%. “Aktivitas allopurinol lebih tinggi setelah 10 jam. Saat itu allopurinol mampu menurunkan radang menjadi 13,82%. Sedangkan aktivitas ekstrak sidaguri-seledri tetap,” kata Dyah.

Pada pengujian in vitro, ekstrak sidaguri dan seledri dapat menghambat, bahkan mengurangi aktivitas xantine oksidase dari 92,59 mM menjadi 4,46 mM per menit. Daya hambat itu lebih tinggi daripada allopurinol yang hanya 29,56 mM/Lmenit (68,07%). Penghambatan aktivitas xantine oksidase membuat peradangan berkurang sampai 15,22%. Formula seledri-sidaguri itu tidak beracun. Itu lantaran konsentrasi formula di bawah nilai LC50, dan nilai LD50 meski dosis pemberian lebih dari 15 g per kg bobot badan (batas minimum toksisitas).

“Sidaguri terkenal sebagai penghilang sakit sendi,” ujar Dyah Iswantini. Sejatinya tubuh secara alami mencerna asam urat dan mengeluarkannya melalui urine. Namun, ketika ginjal tak mampu membuang asam urat, maka kadarnya pun meningkat. Sekitar 90% penyakit asam urat karena kegagalan ginjal membuang asam urat. Penyakit asam urat biasanya menyerang bagian sendi seperti jari-jari kaki, lutut, tumit, pergelangan tangan, jari tangan, dan siku.

Selain menimbulkan nyeri, asam urat juga membuat persendian membengkak, panas, kaku, dan meradang. Bila dibiarkan penyakit asam urat dapat mengakibatkan batu ginjal, bahkan gagal ginjal. Jika tubuh memproduksi asam urat secara berlebihan, maka asam urat menumpuk dalam darah. Kondisi itu dapat mengakibatkan peradangan atau gout. Duduk perkara penumpukan bermula dari aktivitas xantine oksidase yang berlebihan mensintesis asam urat.

Antiperadangan

Berdasarkan hasil analisis ultraviolet (UV), fourier transform infrared (FT-IR), dan fitokimia komponen ekstrak penyusun seledri-sidaguri adalah senyawa fenolik atau flavonoid. Secara tunggal, seledri yang beraroma khas karena kandungan senyawa butilftalida dan butilidftalida memiliki senyawa golongan flavonoid berupa graveoniosid. Senyawa aktif lain yang termasuk golongan fenol adalah apiin, furanokumarin, dan isokueritrin. Selain karena flavanoid, seledri berkhasiat antiradang karena mengandung luteolin. Itu seperti riset Profesor Rodney Johnson dan rekan di University of Illinois, Amerika Serikat, yang mengungkap seledri antiradang pada otak.

Ia membuktikan bahwa luteolin seledri menurunkan peradangan otak. Selama ini peradangan  otak  erat kaitannya dengan daya ingat. Luteolin secara perlahan melepaskan molekul penyebab peradangan. Johnson membuktikannya melalui uji praklinis yang  melibatkan tikus berumur 6 – 24 bulan. Ia memberikan suplemen  luteolin kepada tikus  tua  selama sebulan.

Pada umumnya tikus tua mengalami peradangan terbesar dan daya ingat menurun dibandingkan tikus muda. Namun, setelah tikus mengonsumsi luteolin kondisi berubah. Daya ingat mereka lebih tinggi daripada tikus yang tidak mengonsumsi luteolin. Bahkan, tingkat peradangan otak sama dengan tikus muda.

Begitu juga dengan sidaguri yang berkhasiat antiperadangan.  Periset dari India, S. R. Gupta, membuktikan bahwa ekstrak sidaguri berguna untuk perawatan radang sendi. Penggunaan sidaguri secara tunggal tak kalah berkhasiat. Periset di Bharati Vidyapeeth University, India, Kamles Dhalwal dan rekan, membuktikan bahwa seluruh bagian sidaguri mengandung antioksidan.

Antioksidan menghambat radikal bebas, membersihkan superoksida anion, membersihkan nitrit oksida, dan antilemak peroksidasi. Pada penelitian itu, mereka membandingkan aktivitas antioksidan sidaguri dengan antioksidan sintesis, yakni butylated hydroxyanisole dan α-tocopherol acetate.

Ekstrak sidaguri mulai dari akar, daun, dan batang dapat menghambat  50%  radikal bebas. Itu dengan konsentrasi  masing-masing 546,1 µg, 852,8 µg, 983,8 µg, dan 1,222.5 µg/mL. Hanya ekstrak akar yang menghambat peroksidasi lemak saat diuji coba ke hati tikus dan otak homogenat. Total kandungan polifenol dari ekstrak sama dengan asam gallat. Kandungan antioksidan tertinggi terdapat di akar.

Meski demikian para herbalis pada umumnya meresepkan daun, bukan akar. Herbalis di Jakarta Utara, Ning Harmanto, misalnya, meresepkan daun sidaguri kepada penderita asam urat. Ia menambahkan mahkotadewa dan tempuyung. Mahkotadewa Phaleria macrocarpa untuk menurunkan asam urat dan tempuyung Sonchuz arvensis mencegah terjadinya kerusakan ginjal. “Komposisi itu untuk penderita asam urat akut yang sulit bergerak,” kata Ning.  (Lastioro Anmi Tambunan)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*